- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
Oleh Hendri Hidayat - Senja menyambut sore, tampak rona merah pada langit menambah indahnya hiasan bumi. Di sini aku duduk terdiam ditemani secangkir kopi. Dari kejauhan tampak seorang ibu setengah baya berjalan menuju tempatku.
“Nak, bolehkah numpang duduk ? Perkenalkan sebelumnya aku Renata, ibu itu menjelaskan dengan senyum di wajahnya."
“Saya Indah, silahkan bu, rumahnya mana?”tanyaku.
“Aku merantau dari kota seberang, ini lagi mencari anak lelaki yang hilang sekitar dua puluh tahun lalu, penjelasan bu Renata.”
Di tengah percakapan kami, ada seorang pemuda yang datang ke rumah. Ia adalah Arman tunanganku, kami berencana mau nikah tiga bulan lagi, tapi dia masih mencari jejak keluarga karena lama berpisah dengan orang tuanya.
Kuperkenalkan bu Renata pada Arman, mereka saling menatap,. Sepertinya saling mengenal. Keduanya sama-sama meneteskan air mata dari kelopak matanya. Ternyata mereka adalah orang tua dan anak yang selama ini berpisah. Hati ini terharu melihat kejadian ini.
Aku menyuruh mereka masuk rumah, biar lebih tenang berbicara, akhirnya keduanya menyetujui permintaan itu. Arman menjelaskan hubungan kami, bu Renata sangat senang sekali, tapi dibalik wajah bahagia tampak ada rasa kecewa yang tak bisa diungkapkan.
Setelah beberapa jam kami duduk dan bercakap, akhirnya bu Renata menjelaskan tentang wasiat Ayah Arman sebelum meninggal, kalau anaknya mau dinikahkan dengan anak sahabatnya.
Mendengar itu hatiku sangat kecewa, tapi kita tidak bisa memaksakan sesuatu kehendak. Bagaimanapun harus bisa menerima kenyataan. Arman juga terlihat kecewa tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini merupakan wasiat yang harus dijalankan.
Sejak kejadian itu aku sangat takut menjalani hubungan serius dengan lelaki, mungkin trauma itu masih ada, hidup harus tetap berjalan. Kita hidup bukan untuk masa lalu tapi untuk masa depan yang lalu biarkan berlalu, suatu saat pasti kutemukan seseorang belahan jiwa ini.
“Nak, bolehkah numpang duduk ? Perkenalkan sebelumnya aku Renata, ibu itu menjelaskan dengan senyum di wajahnya."
“Saya Indah, silahkan bu, rumahnya mana?”tanyaku.
“Aku merantau dari kota seberang, ini lagi mencari anak lelaki yang hilang sekitar dua puluh tahun lalu, penjelasan bu Renata.”
Di tengah percakapan kami, ada seorang pemuda yang datang ke rumah. Ia adalah Arman tunanganku, kami berencana mau nikah tiga bulan lagi, tapi dia masih mencari jejak keluarga karena lama berpisah dengan orang tuanya.
Kuperkenalkan bu Renata pada Arman, mereka saling menatap,. Sepertinya saling mengenal. Keduanya sama-sama meneteskan air mata dari kelopak matanya. Ternyata mereka adalah orang tua dan anak yang selama ini berpisah. Hati ini terharu melihat kejadian ini.
Aku menyuruh mereka masuk rumah, biar lebih tenang berbicara, akhirnya keduanya menyetujui permintaan itu. Arman menjelaskan hubungan kami, bu Renata sangat senang sekali, tapi dibalik wajah bahagia tampak ada rasa kecewa yang tak bisa diungkapkan.
Setelah beberapa jam kami duduk dan bercakap, akhirnya bu Renata menjelaskan tentang wasiat Ayah Arman sebelum meninggal, kalau anaknya mau dinikahkan dengan anak sahabatnya.
Mendengar itu hatiku sangat kecewa, tapi kita tidak bisa memaksakan sesuatu kehendak. Bagaimanapun harus bisa menerima kenyataan. Arman juga terlihat kecewa tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini merupakan wasiat yang harus dijalankan.
Sejak kejadian itu aku sangat takut menjalani hubungan serius dengan lelaki, mungkin trauma itu masih ada, hidup harus tetap berjalan. Kita hidup bukan untuk masa lalu tapi untuk masa depan yang lalu biarkan berlalu, suatu saat pasti kutemukan seseorang belahan jiwa ini.

Comments
Post a Comment