- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
Oleh Kagami Mayari - Setelah pulang dari pengajian rutin mingguan, tidak seperti biasanya Lidya melihat Jaka langsung masuk kamar setelah mengucap salam dan menutup pintu rapat-rapat seraya menggigil ketakutan, beristigfar berulang kali memohon ampunan-Nya. Mendekat perlahan Lidya mengetuk pintu.
"Abi kenapa?" Tak ada jawaban setelah ketukan ke tiga, hanya gumaman istighfar yang terdengar. "Mungkin Abi butuh sendiri" Lidya membatin seraya melangkah menuju dapur.
"Hahaha...Jaka...Jaka. Hari gini mau minjem duit nggak pake bunga? ada-ada aja kamu. Mana ada?" Suara tawa mengejek datang dari Radhi, Pak Dhe Jaka. Orang kaya tapi sayang pelit. Jaka berinisiatif meminjam kepadanya setelah mengetahui hukum riba. Berharap dapat pinjaman karena Lintang anak mereka sedang dirawat di rumah sakit.
Kata dokter harus operasi, karena terlalu banyak mengkonsumsi makanan ringan serta minuman kemasan, ususnya lengket dan operasi sangat diharuskan.
Sebenarnya Lidya merasa bersalah karena Lintang sakit ." Pastilah gara-gara aku yang bebas membiarkan Lintang menyantap semua jenis snack." Lidya membatin.
Selain ibu rumah tangga, Lidya juga bekerja sebagai buruh cuci para tetangga. Maksutnya untuk membantu perekonomian keluarga. Tapi malah anak terbengkalai dan jajan sembarangan. Lidya pikir tidak akan terjadi apa-apa, tapi nyatanya? Memikirkan hal ini serta biaya operasi membuat kepala Lidya berdenyut nyeri.
Menahan rasa malu mereka pulang dengan muka tertekuk, mereka terlalu menaruh harapan pada Radhi. Mereka berharap orang tua tersebut welas kepada anak mereka. Mereka lupa kalo yang mereka panggil Pak Dhe itu terlalu mencintai dunia hingga tak memikirkan akhirat.
Tidak mungkin bagi mereka mengulang kesalahan dengan meminjam uang dari Koperasi Simpan Pinjam(KSP). Karena dulu mereka adalah nasabah tetap. Setiap ada kebutuhan mendadak KSP siap melayani. Tanpa survey hanya modal KTP, sejuta dua juta bisa langsung digenggaman.
Tapi setelah mendengar penjelasan dari sang suami perihal ketakutan setelah pulang pengajian, Lidya pun ikut mendukung.
Riba, itu yang jadi pembahasan. Begitu besar dosa seorang yang menjalankan riba, dari peminjam dan yang meminjam dosanya sama besar. Bahkan dosa riba paling kecil sekalipun masih membuat Lidya dan suami bergidig ketakutan.
Bagaimana tidak ngeri dosanya sama dengan berzina dengan ibu kandung sendiri, naudzubillah min dzalik. Jangan sampai anak serta cucunya bernasib sama, begitulah harapan mereka.
Makanya Jaka pinjam saudara biar gak pake bunga, tapi nasib berkata lain. Mereka malah ditertawakan.
" Kamu gak laku." Sungut Lidya sembari melotot pada BPKB yang dipegang setelah keluar dari pagar rumah sang empunya. Rencana mau dipake buat jaminan, kalo -kalo dipercaya. Tapi rencana tinggal rencana.
" Langsung ke rumah sakit, Bi. Percuma punya saudara kaya tapi peritungan. Dasar rentenir." Lidya terus ngedumel dalam perjalanan.
" Em. Mingkem."
" Iya..."
***
" Mbak, Kalo biaya operasinya dibayar setengah dulu bisa nggak?" Tanya Jaka kepada perawat yang baru selesai memeriksa suhu tubuh Lintang.
Pulang dari usaha pinjam uang yang tidak membuahkan hasil , mereka langsung menuju rumah sakit.
" Kurang tau ya, Pak. Coba Bapak tanyakan ke bagian administrasi." Jawab perawat itu sopan.
"Permisi Pak... Bu..."
" Eh, Bi. Kemarin pas pengajian di rumah Dokter Gito, beliau bilang praktek disini ya?" Tanya Lidya sambil membereskan buah tangan dari para tetangga. Meskipun hanya keluarga sederhana, tetapi mereka orang yang ramah dan tidak segan menolong. Tidak heran kamar rawat anak mereka selalu ramai dikunjungi baik dari saudara maupun tetangga.
" Iya Mi, nanti Abi coba hubungi beliau." Jawab Jaka tenang. Dia terus memandang wajah lintang. Anak lelakinya tidur sangat lelap, sudah tidak rewel.
Jaka merenung apa yang telah dia perbuat hingga mendapat cobaan seperti ini. Sebagai hamba Allah Jaka tidak pernah lupa kewajibannya sebagai seorang muslim . Puasa sunah serta solat malam tidak pernah absen. Tapi Jaka percaya dibalik musibah pasti Allah menyiapkan pula jalan keluar. Kalau syetan punya akses dari depan belakang atas bawah serta kiri kanan untuk merayunya kembali berbuat riba, maka Allah lebih tau kekuatan hamba-Nya.
Tepukan pada bahu Jaka membuatnya menoleh, tersenyum mendapati Lidya sang istri menatapnya dengan sorot mata teduh seolah mengatakan' Lintang akan baik-baik saja.'
" Abi keluar sebentar ya." Ujar Jaka kepada Lidya.
" Hati-hati, Bi."
" Hem, assalamualaikum."
" Alaikum salam."
Keluar dari ruangan tempat Lintang dirawat, Jaka berjalan menyusuri rumah sakit. Entah pikiran darimana tapi perkataan Lidya sang istri benar Semoga beliau mau menolong. Dokter Gito terkenal kaya dan suka menolong. Kekayaannya tidak akan habis walau tujuh turunan. Itu yang pernah Jaka ketahui karena sudah hampir enam bulan Jaka mengenal sosok tersebut. Tiba -tiba dari belakang ada yang menepuk pundaknya.
" Pak Jaka terburu-buru mau kemana?" Tanya seseorang.
Menoleh ke belakang Jaka tersenyum, tidak usah mencari kini orang yang dicari ada dihadapannya.
" Apa kabar Pak Gito, Kliniknya sudah jadi ya Pak?" Tanya Jaka basa basi.
" Alhamdulillah, tinggal finishing saja. Sebenarnya saya kemarin mencari Pak Jaka, mau minta tolong."
" Minta tolong apa Pak?"
" Mengenai isi kajian tempo hari soal riba... saya berniat ingin membantu sesama. Tolong Pak Jaka kalau punya teman atau saudara yang terlilit hutang di Bank atau KSP, saya bisa membantu. Biar mereka tidak terjerat terlalu dalam . Tapi...nanti pake jaminan Pak." Ujar Dokter Gito panjang lebar.
Jaka bersyukur dalam hati, inilah jawaban atas doanya . Ternyata masih ada orang yang peduli sesama . Bukan saudara justru bantuan itu datang dari orang yang tidak ada hubungan darah sama sekali.
" Bisa Pak, bisa sekali."
" Oh ya , Pak Jaka sendiri tadi buru-buru mau kemana?"
" Nganu Pak, " Jaka menelan ludah. " Sebenarnya saya mencari Pak Gito . Ya untuk hal tadi Pak."
" Subhanallah... Nanti sore Pak Jaka bisa ke rumah saya. Sudah tau alamatnya kan?"
" Sudah Pak, Kalau begitu saya mau menemui istri saya dulu ."
" Silahkan...silahkan."
Tersenyum Jaka mengucap syukur dalam Hati. Kakinya melangkah pasti kembali ke ruangan di mana anaknya dirawat. Membuka pintu perlahan , Jaka berjalan mendekati Lidya seraya berbisik" Alhamdulillah Mi, besok Lintang bisa operasi. Abi sudah bertemu dengan Pak Gito."
Senyum lebar serta mata berbinar Lidya menyambut berita suka cita tersebut. Tak lupa mengucap syukur atas pertolongan-Nya.
" Terimakasih Yaa Allah." Ucap Lidya dengan mata berkaca-kaca.
END.
"Abi kenapa?" Tak ada jawaban setelah ketukan ke tiga, hanya gumaman istighfar yang terdengar. "Mungkin Abi butuh sendiri" Lidya membatin seraya melangkah menuju dapur.
"Hahaha...Jaka...Jaka. Hari gini mau minjem duit nggak pake bunga? ada-ada aja kamu. Mana ada?" Suara tawa mengejek datang dari Radhi, Pak Dhe Jaka. Orang kaya tapi sayang pelit. Jaka berinisiatif meminjam kepadanya setelah mengetahui hukum riba. Berharap dapat pinjaman karena Lintang anak mereka sedang dirawat di rumah sakit.
Kata dokter harus operasi, karena terlalu banyak mengkonsumsi makanan ringan serta minuman kemasan, ususnya lengket dan operasi sangat diharuskan.
Sebenarnya Lidya merasa bersalah karena Lintang sakit ." Pastilah gara-gara aku yang bebas membiarkan Lintang menyantap semua jenis snack." Lidya membatin.
Selain ibu rumah tangga, Lidya juga bekerja sebagai buruh cuci para tetangga. Maksutnya untuk membantu perekonomian keluarga. Tapi malah anak terbengkalai dan jajan sembarangan. Lidya pikir tidak akan terjadi apa-apa, tapi nyatanya? Memikirkan hal ini serta biaya operasi membuat kepala Lidya berdenyut nyeri.
Menahan rasa malu mereka pulang dengan muka tertekuk, mereka terlalu menaruh harapan pada Radhi. Mereka berharap orang tua tersebut welas kepada anak mereka. Mereka lupa kalo yang mereka panggil Pak Dhe itu terlalu mencintai dunia hingga tak memikirkan akhirat.
Tidak mungkin bagi mereka mengulang kesalahan dengan meminjam uang dari Koperasi Simpan Pinjam(KSP). Karena dulu mereka adalah nasabah tetap. Setiap ada kebutuhan mendadak KSP siap melayani. Tanpa survey hanya modal KTP, sejuta dua juta bisa langsung digenggaman.
Tapi setelah mendengar penjelasan dari sang suami perihal ketakutan setelah pulang pengajian, Lidya pun ikut mendukung.
Riba, itu yang jadi pembahasan. Begitu besar dosa seorang yang menjalankan riba, dari peminjam dan yang meminjam dosanya sama besar. Bahkan dosa riba paling kecil sekalipun masih membuat Lidya dan suami bergidig ketakutan.
Bagaimana tidak ngeri dosanya sama dengan berzina dengan ibu kandung sendiri, naudzubillah min dzalik. Jangan sampai anak serta cucunya bernasib sama, begitulah harapan mereka.
Makanya Jaka pinjam saudara biar gak pake bunga, tapi nasib berkata lain. Mereka malah ditertawakan.
" Kamu gak laku." Sungut Lidya sembari melotot pada BPKB yang dipegang setelah keluar dari pagar rumah sang empunya. Rencana mau dipake buat jaminan, kalo -kalo dipercaya. Tapi rencana tinggal rencana.
" Langsung ke rumah sakit, Bi. Percuma punya saudara kaya tapi peritungan. Dasar rentenir." Lidya terus ngedumel dalam perjalanan.
" Em. Mingkem."
" Iya..."
***
" Mbak, Kalo biaya operasinya dibayar setengah dulu bisa nggak?" Tanya Jaka kepada perawat yang baru selesai memeriksa suhu tubuh Lintang.
Pulang dari usaha pinjam uang yang tidak membuahkan hasil , mereka langsung menuju rumah sakit.
" Kurang tau ya, Pak. Coba Bapak tanyakan ke bagian administrasi." Jawab perawat itu sopan.
"Permisi Pak... Bu..."
" Eh, Bi. Kemarin pas pengajian di rumah Dokter Gito, beliau bilang praktek disini ya?" Tanya Lidya sambil membereskan buah tangan dari para tetangga. Meskipun hanya keluarga sederhana, tetapi mereka orang yang ramah dan tidak segan menolong. Tidak heran kamar rawat anak mereka selalu ramai dikunjungi baik dari saudara maupun tetangga.
" Iya Mi, nanti Abi coba hubungi beliau." Jawab Jaka tenang. Dia terus memandang wajah lintang. Anak lelakinya tidur sangat lelap, sudah tidak rewel.
Jaka merenung apa yang telah dia perbuat hingga mendapat cobaan seperti ini. Sebagai hamba Allah Jaka tidak pernah lupa kewajibannya sebagai seorang muslim . Puasa sunah serta solat malam tidak pernah absen. Tapi Jaka percaya dibalik musibah pasti Allah menyiapkan pula jalan keluar. Kalau syetan punya akses dari depan belakang atas bawah serta kiri kanan untuk merayunya kembali berbuat riba, maka Allah lebih tau kekuatan hamba-Nya.
Tepukan pada bahu Jaka membuatnya menoleh, tersenyum mendapati Lidya sang istri menatapnya dengan sorot mata teduh seolah mengatakan' Lintang akan baik-baik saja.'
" Abi keluar sebentar ya." Ujar Jaka kepada Lidya.
" Hati-hati, Bi."
" Hem, assalamualaikum."
" Alaikum salam."
Keluar dari ruangan tempat Lintang dirawat, Jaka berjalan menyusuri rumah sakit. Entah pikiran darimana tapi perkataan Lidya sang istri benar Semoga beliau mau menolong. Dokter Gito terkenal kaya dan suka menolong. Kekayaannya tidak akan habis walau tujuh turunan. Itu yang pernah Jaka ketahui karena sudah hampir enam bulan Jaka mengenal sosok tersebut. Tiba -tiba dari belakang ada yang menepuk pundaknya.
" Pak Jaka terburu-buru mau kemana?" Tanya seseorang.
Menoleh ke belakang Jaka tersenyum, tidak usah mencari kini orang yang dicari ada dihadapannya.
" Apa kabar Pak Gito, Kliniknya sudah jadi ya Pak?" Tanya Jaka basa basi.
" Alhamdulillah, tinggal finishing saja. Sebenarnya saya kemarin mencari Pak Jaka, mau minta tolong."
" Minta tolong apa Pak?"
" Mengenai isi kajian tempo hari soal riba... saya berniat ingin membantu sesama. Tolong Pak Jaka kalau punya teman atau saudara yang terlilit hutang di Bank atau KSP, saya bisa membantu. Biar mereka tidak terjerat terlalu dalam . Tapi...nanti pake jaminan Pak." Ujar Dokter Gito panjang lebar.
Jaka bersyukur dalam hati, inilah jawaban atas doanya . Ternyata masih ada orang yang peduli sesama . Bukan saudara justru bantuan itu datang dari orang yang tidak ada hubungan darah sama sekali.
" Bisa Pak, bisa sekali."
" Oh ya , Pak Jaka sendiri tadi buru-buru mau kemana?"
" Nganu Pak, " Jaka menelan ludah. " Sebenarnya saya mencari Pak Gito . Ya untuk hal tadi Pak."
" Subhanallah... Nanti sore Pak Jaka bisa ke rumah saya. Sudah tau alamatnya kan?"
" Sudah Pak, Kalau begitu saya mau menemui istri saya dulu ."
" Silahkan...silahkan."
Tersenyum Jaka mengucap syukur dalam Hati. Kakinya melangkah pasti kembali ke ruangan di mana anaknya dirawat. Membuka pintu perlahan , Jaka berjalan mendekati Lidya seraya berbisik" Alhamdulillah Mi, besok Lintang bisa operasi. Abi sudah bertemu dengan Pak Gito."
Senyum lebar serta mata berbinar Lidya menyambut berita suka cita tersebut. Tak lupa mengucap syukur atas pertolongan-Nya.
" Terimakasih Yaa Allah." Ucap Lidya dengan mata berkaca-kaca.
END.

Comments
Post a Comment